BukuBuku
Buku
Mainan EdukasiMainan Edukasi
Mainan Edukasi
StationeryStationery
Stationery
Hi, Guest!
-20%
Pemimpin yang Tuhan
Pemimpin yang Tuhan
Pemimpin yang Tuhan

Pemimpin yang Tuhan

(0 Ulasan)
Kategori: Agama Islam
SKU: MMU0130000206
Supplier: MIZAN
Tersedia
Rp 71,200Rp 89,000

Detail Produk

Kenapa sekarang ini manusia menjadi sangat pemarah?”

Pertanyaan yang dilontarkan Emha Ainun Nadjib di atas tampaknya mewakili banyak orang di negeri ini. Kita semua menjadi sering marah pada hal-hal yang justru sebelumnya bisa kita tertawakan bersama. Belakangan, kita juga cepat marah pada perbedaan pendapat, termasuk dalam menentukan “siapa yang paling pantas menjadi pemimpin”.

Setiap orang pasti memilih pemimpin yang bisa dipercaya.Namun, percaya membabi buta kepada pemimpin tersebut justru bisa menjadi persoalan. Berprasangka baik memang perbuatan yang dianjurkan. Namun, selalu berprasangka baik tanpa sedikit pun meletakkan sikap kritis malah membahayakan.

Melalui Pemimpin yang "Tuhan", sekali lagi Emha mengajak kita untuk mawas diri. Tidak hanya kepada pemimpin yang lalim, tetapi juga berhati-hati agar jangan sampai terjebak menjadi rakyat yang lalim.

 

Keunggulan Buku

Keunggulan Buku

  • Cak Nun merupakan penulis yang sangat produktif dan peka terhadap perubahan zaman. Tulisan-tulisan beliau mengajak kita untuk selalu bertanya terhadap segala hal.
  • Saat ini Indonesia tengah diributkan dengan isu “mencari pemimpin yang tepat dan amanah”, buku ini membahas secara kritis fenomena tersebut
     

Nukilan
Kita semakin kehilangan kemampuan untuk benar tanpa menyalahkan. Kita semakin tidak sanggup untuk benar, kecuali harus dengan menyalahkan. Yang benar kita, orang lain salah. Semua dan setiap pihak berdiri pada posisi itu. 

Benar dan salah harus jelas di wilayah hukum. Namun, di wilayah budaya, ada faktor kebijaksanaan. Di wilayah politik, ada kewajiban untuk mempersatukan. Agama menuntun kita dengan menghamparkan betapa kayanya dialektika antara sabil (arah perjalanan), syari’ (pilihan jalan), thariq (cara menempuh jalan), dan shirath (presisi keselamatan bersama di ujung jalan). 

Itulah “kemanusiaan yang adil dan beradab”, “persatuan Indonesia”, “hikmat kebijaksanaan” serta “keadilan sosial bagi seluruh”, bukan “bagi sebagian”. Namun, kita muter-muter di dalam lingkaran setan, tempat kita harus selalu menyalahkan demi supaya kita benar. Supaya kita benar, diperlukan orang dan pihak lain yang salah. Kita tidak bisa benar dengan kebenaran itu sendiri secara autentik dan mandiri.

Rakyat kecil sanggup melaksanakan “organisme kebenaran”-nya secara natural dan kultural. Namun, kaum menengah dan elite pemimpin belum pernah berhasil menyelenggarakan “organisasi kebenaran” negara dan pemerintahan untuk menciptakan zona nyaman bagi rakyat. Istilah Jawa-nya: di bawah sudah berlangsung “desa mawa cara”, tetapi di atas belum berlangsung “negara mawa tata”.

Apakah itu disebabkan oleh ketidakyakinan atas kebenaran yang kita pilih? Atau, ketidakjelasan pengetahuan dan ilmu tentang kebenaran? Ataukah semacam kelemahan mental, ketika kita selalu memerlukan orang untuk kita salahkan, sebagai syarat psikologis agar kita merasa benar?

Atau, memang ini hakikat hidup? Ada benar dan salah, baik dan buruk, indah dan jelek. 

Saya mengkritik keras diri saya dan memeriksa ulang seluruh pengetahuan dan sikap hidup saya. Seberapa kadar keterlibatan saya dalam kelemahan ilmu dan penyakit mental jenis ini. Saya tidak pernah mengemukakan kebenaran kalau yang saya maksudkan adalah kebatilan. Saya tidak pernah meluluskan keburukan sebagai kebaikan dengan akibat-akibat sosial yang sebenarnya luar biasa besar dan berbahaya.

Saya berbicara dan menulis apa adanya. Namun, saya kasih tahu diri saya bahwa yang dimaksud apa adanya itu tidak berarti pasti benar dan baik. Saya apa adanya adalah saya dengan kelemahan mental, ketidakcukupan ilmu, kesempitan pengetahuan. Mungkin juga ketidakterbimbingan oleh kebijaksanaan.

Kalau saya menengok keluar jendela hidup saya, menatap Indonesia dan dunia, rasanya beberapa tahun belakangan ini sangat digaduhkan oleh situasi-situasi “benar ialah menyalahkan”, “baik ialah menjelek-jelekkan”, sebagaimana “menang ialah mengalahkan”.

Nenek moyang jadul saja punya “menang tanpa ngasorake”. Apalagi kalau tak diperjelas peta nilainya kita bisa terpeleset: karena menang, kita merasa benar dan baik. Hamparan yang saya pandang di luar jendela itu ternyata bukannya tanpa saya. Saya tidak steril dari merasa benar dan merasa baik. Saya tidak merdeka dari keterpelesetan ilmu, kesembronoan mental, dan ketidakwaspadaan sikap sosial. Saya merasa tidak terikat oleh kepentingan keduniaan apa pun, tetapi tidak berkepentingan itu sendiri adalah suatu jenis kepentingan. Sebagaimana konsistensi untuk tidak berpamrih sebenarnya adalah perjuangan pamrih juga, meskipun pamrihnya adalah tidak berpamrih.

Jangan-jangan manusia memang “dipermainkan” oleh hakikat hidupnya sendiri. Cahaya disadari dan dirindukan dari area kegelapan. Malam menerbitkan kebutuhan terhadap siang. Penderitaan menyeretkan dambaan untuk memperoleh kebahagiaan. Tuhan adalah “muqallibul qulub”, pembolak-balik hati manusia. Tuhan penyelenggara “ikhtilafil laili wannahar”, arsitek pergantian siang malam. Meskipun Tuhan menolong kita di tengah pusaran kebingungan:“muhawwilul hal wal ahwal”, mengurus segala urusan. Ia juga “balighul amr”, mengantarkan kita menuju keberesan sesuatu yang kita perjuangkan.
Saya pernah mendengar dari nenek moyang bahwa gagasan orisinal Tuhan ketika menciptakan Adam adalah positivisme. Ia menciptakan makhluk-makhluk untuk diajak bermesraan. Ia menciptakan hamba-hamba untuk mematuhi kehendak-Nya karena Ia memenuhi segala kebutuhan kesejahteraan dan kebahagiaan. Sampai kemudian Iblis mengacaukannya.
Makhluk senior yang dahulu paling dekat dengan Tuhan ini memang usil dan iseng punya. Tujuh ribu tahun ia paling rajin mengabdi, paling khusyu’, palingruku’, dan paling sujud. Namun, ternyata diam-diam ia menyimpan kelelahan dan dendam di dalam jiwanya. Ketika Tuhan memberinya waktu untuk istirahat, ia diiringi ribuan malaikat berkeliling-keliling jagat raya. Sesampainya di Bumi, ia tak mau kembali ke kampungnya di langit tujuh.
Ternyata Kanjeng Idajil ini hedonis materialistis. Makhluk “hubbud-dunya”, pencinta dunia, penggemar benda dan segala sesuatu yang kasatmata dan bisa dinikmati dengan pancaindra. Ia cemburu pada gagah dan atletisnya tubuh sang Adam, wajah handsome-nya, kesempurnaan konstruksinya serta proporsi struktur badannya. Lebih dengki lagi pada jabatan Adam yang diserahi Tuhan untuk memimpin kehidupan di dunia.
Maka, Iblis bersumpah akan memelesetkan langkah Adam, mengaburkan ilmunya, membalik pengetahuannya, menggoda hatinya, dan menggerogoti iman dalam jiwanya. Lancang dan gagah berani Smarabhumi Idajil ini. Maka, terjadilah polarisasi. Pemetaan protagonis dan antagonis. Densitas positif dan kerapatan negatif. Pergantian siang dan malam. Pertentangan cahaya dengan kegelapan. Kesucian dan kemaksiatan. Ketundukan dan keingkaran. Efisiensi dan pemborosan. Bahkan, kesabaran dan ketergesaan.

Spesifikasi Produk

Spesifikasi Lengkap
Sorry record not available.

Ulasan Produk

Maaf, sementara tidak ada ulasan untuk produk ini.

Produk Rekomendasi

Produk Yang Sudah Dilihat